Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Artikel Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kristen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Desember 2010

KARENA ORGAN RUSAK

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja, tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu menyanyikan "Stille Nacht" (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.
Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus kebuntuan!
Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur yang semula.

                  HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU
          MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS


Sumber : Yayasan Gloria

Rabu, 27 Oktober 2010

MENANG DALAM PENJARA

Dalam buku A Day in the Life of Ivan Denisovich, Alexander Solzhenitsyn mengisahkan Ivan yang mengalami berbagai kengerian dalam kamp tahanan di Soviet. Suatu hari, ketika ia berdoa dengan mata terpejam, seorang tahanan lain memperhatikan dan mengejek, "Doa tidak akan membantumu keluar lebih cepat dari tempat ini." Setelah membuka matanya, Ivan menjawab, "Aku berdoa bukan untuk keluar dari penjara, tetapi aku berdoa agar dapat melakukan kehendak Allah di dalam penjara."

Sikap umum orang dalam menghadapi masalah kemungkinan besar mirip dengan sikap tahanan lain itu terhadap penjara: menganggapnya sebagai sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan secepat mungkin. Orang melamunkan kehidupan yang bebas dari masalah.

Rasul Paulus juga pernah mengalami pemenjaraan-itu hanya sebagian dari penderitaan yang bertubi-tubi menimpanya. Akan tetapi, ia tidak melihat aneka penderitaan itu sebagai rintangan se-mata. Ia tidak menjadi kecewa karenanya. Ia menganggap penderitaan itu dipakai Tuhan sebagai alat untuk menguatkan kehidupan rohaninya hari demi hari, meneguhkan iman dan pengharapannya akan kekekalan. Apabila dibandingkan dengan upah kekal tersebut, penderitaan itu dapat dipandang sebagai masalah yang dapat dihadapi dan dilampaui.

Kita masing-masing mungkin sedang merasa terpenjara oleh suatu masalah. Dalam keadaan demikian, apakah yang akan kita minta dari Tuhan? Meminta Tuhan membebaskan kita dari masalah itu-habis perkara? Atau, meminta Tuhan agar memakainya untuk menguatkan iman dan pengharapan kita akan kekekalan?

                  PENGHARAPAN AKAN KEKEKALAN MERINGANKAN KITA
              DALAM MENANGGUNG PENDERITAAN DI DUNIA YANG FANA

Sumber : Yayasan Gloria

Selasa, 26 Oktober 2010

RAKUS

Sepasang pengantin merayakan pesta pernikahan mereka di sebuah restoran mewah di Taipei. Sebagai bonus, keduanya boleh minum bir dan wine sepuasnya tanpa biaya tambahan. Mumpung gra-tis, Wu, si pengantin pria, menenggak minuman keras sebanyak-banyaknya. Sepulang dari pesta, wajahnya mendadak pucat. Segera Wu dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya tidak tahan menerima asupan alkohol begitu banyak. Malam itu juga ia meninggal. Pada hari pernikahannya.

Kerakusan berbahaya. Nafsu rakus muncul saat orang merasa berhak memperoleh lebih. Umat Israel telah diberi Tuhan cukup makanan. Setiap pagi mereka menerima mukjizat. Manna tersedia di depan tenda. Tinggal dipungut dan dimasak. Namun, nafsu rakus membuat mereka tidak puas. Mereka menuntut lebih: minta diberi daging. Tuhan murka, lalu menghukum dengan menuruti kemauan mereka. Dikirimnya burung-burung puyuh. Banyak sekali. Setiap orang mengumpulkan minimal 10 homer. Setara dengan 50 ember besar berisi daging puyuh! Setelah diawetkan dengan cara dikeringkan, daging itu malah jadi makanan beracun yang mematikan.

Nafsu rakus muncul bukan cuma dalam soal makan-minum, melainkan juga dalam soal harta, kuasa, seks, pengetahuan, pengaruh, dan lain-lain. Gejalanya: kita merasa tidak puas terhadap berkat Tuhan, lalu menuntut lebih. Lalu segala cara pun kita tempuh. Hati kita berbisik: "Ayo, ambil lebih banyak lagi. Kamu bisa!" Jika nafsu rakus itu akhirnya bisa tersalurkan karena ada kesempatan, jangan buru-buru berkata: "Itu berkat Tuhan!" Bisa jadi itu sebuah hukuman! 

                   HUKUMAN TUHAN PALING MENGERIKAN
    IALAH SAAT DIA MEMBIARKAN ANDA PUNYA SEMUA YANG ANDA INGINKAN


Sumber : Yayasan Gloria

Kamis, 23 September 2010

SEDAPAT-DAPATNYA

Tidak ada manusia yang sempurna, siapa pun orang tersebut. Sepandai- pandainya tupai melompat, sekali waktu ia akan jatuh juga. Di atas bintang masih ada langit. Semua prestasi yang dicapai manusia, pasti ada batasnya. Daya jangkau manusia selalu terbatas. Selalu saja masih di bawah standar "kesempurnaan".
Paulus sadar akan hal itu. Itulah sebabnya tatkala ia memberi nasihat kepada jemaat, ia tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak menunjuk kepada anjuran yang muluk-muluk. "Janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana" (ayat 16). Bahkan, dalam hal menerapkan kebaikan pun, kita harus tetap realistis. Melakukannya sebisa mungkin, sejauh yang dapat kita upayakan. Oleh karena itu, ia menambahkan kalimat "sedapat-dapatnya".
Di ruang praktik seorang dokter kenalan saya, terpasang tulisan di dinding yang menjadi prinsipnya dalam bekerja. Bunyinya begini:
Sedapat-dapatnya lakukanlah semua yang baik Sedapat-dapatnya dengan segala macam cara dan upaya Sedapat-dapatnya di segala waktu yang ada Sedapat-dapatnya kepada siapa saja yang kamu temui Sedapat-
dapatnya selama mungkin kamu bisa melakukannya.
Saya rasa ia benar. Begitulah semangat yang seharusnya merasuki orang kristiani. Tak terlalu muluk hingga tak terlaksana apa-apa, tetapi tidak juga menjadi malas. Melakukan kehendak Tuhan dengan tekad "sedapat-dapatnya". Tak lebih dan tak kurang dari itu.

MARI KITA AKUI KETIDAKSEMPURNAAN KITA
SAMBIL BERTEKAD MENJANGKAU SEDAPAT MUNGKIN YANG KITA BISA

Sumber : Yayasan Gloria

BERJALAN DENGAN IMAN

Ada sebuah humor tentang seorang buta yang hadir dalam KKR kesembuhan ilahi. Ia menghampiri pembicara dan mohon matanya disembuhkan.
Penginjil: "Anda buta, tetapi Anda bisa sampai ke tempat ini?" Orang buta: "Karena saya berjalan dengan Iman, Pak." Penginjil: "Bagus, iman jugalah yang akan menyembuhkan Bapak!" Orang buta: "Man … Man … (sambil mendekap anaknya yang bernama Iman, yang tadi menuntunnya) kenapa kamu enggak pernah bilang kalau kamu bisa menyembuhkan bapakmu?"
Berjalan dengan iman tentu tidak seperti humor di atas. Berjalan dengan iman juga bukan nekat, berjalan tanpa dasar. Namun berjalan berdasarkan keyakinan bahwa firman Tuhan itu "ya" dan "amin". Abram adalah contohnya. Ketika Tuhan memanggilnya keluar dari Ur dan pergi ke tempat yang akan ditunjukkan Tuhan, sesungguhnya ia tidak tahu di mana dan seperti apa tempat itu. Akan tetapi, Abram tetap taat. Bagaimana bisa? Surat Ibrani menjelaskan dengan gamblang, yaitu "dengan iman". Artinya, Abram percaya pada setiap firman dan janji yang keluar dari mulut Allah.
Iman dan firman adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Iman tanpa dasar firman Tuhan bukanlah iman sejati. Sebagai contoh, kerap kali ketika gereja akan mengadakan sebuah acara, seseorang mengatakan bahwa sukses tidaknya acara tersebut bergan-tung pada iman yang ada. Sementara, iman menuntut adanya tindakan. Maka penting sekali, sebelum mengatakan "mari beriman", kita menguji diri terlebih dulu dengan firman Tuhan. Dan selalu mendasari iman dengan kebenaran firman Tuhan.

IMAN TANPA DASAR ADALAH IMAN YANG BUTA


Sumber : Yayasan Gloria

KISAH SUP BATU

Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di sebuah kota. Warga kota itu tak pernah bergembira, sebab mereka hidup dengan sangat mementingkan diri sendiri. Mereka mengerjakan segala sesuatu sendiri dan untuk dirinya sendiri. Selain itu, mereka suka mencurigai semua orang. Termasuk kepada tiga pengembara kelaparan yang duduk di tengah alun-alun kota mereka. Tiga pengembara itu membuat api lalu merebus sebuah batu. "Apa yang kaubuat?" tanya seorang anak yang lewat. "Kami membuat sup batu yang sangat enak, " kata si pengembara, "tetapi akan jauh lebih enak jika ditambah sesiung kecil bawang, " lanjutnya. Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang. Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu. "Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik." Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak (tentu setelah batunya dibuang) dan penduduk kota ikut menikmatinya. Untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan. Pemazmur menyebutkan betapa baiknya apabila kita hidup bersama dengan rukun. Tidak cuma berarti tinggal bersama-sama, tetapi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tanpa prasangka, yang menghalangi interaksi dengan sesama. Hidup harmonis ini bukan saja mendatangkan kebahagiaan bagi kita, melainkan juga bagi Allah. Seperti kata pemazmur, "… sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat ..." 

ORANG YANG SELALU MENARUH CURIGA MEMBATASI DIRINYA UNTUK BAHAGIA

Sumber : renunganharian.net/yayasan gloria

Senin, 20 September 2010

Kekuatan Pikiran

Sejak kecil Tara sudah bermimpi menjadi Miss America. Impiannya nyaris kandas setelah beberapa kali ikut kontes dan tidak menang. Bukannya putus asa, Tara terus berusaha. Akhirnya, pada 1997 ia sungguh-sungguh terpilih menjadi Miss America. Ketika ditanya seorang wartawan apakah ia canggung berjalan di atas panggung? Tara menjawab, "Tidak, karena saya sudah berjalan di atas panggung ribuan kali dalam pikiran saya."
Ada pepatah dalam bahasa Latin: Fortis imaginatio generat casum. Artinya, imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Sejalan dengan yang dikatakan Marcus Aurelius dalam karyanya Meditations (Perenungan): "Profil kehidupan kita akan persis sama dengan apa yang kita pikirkan". Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan seseorang.
Ketika yang ada dalam pikiran kita adalah hal-hal yang negatif-kepedihan, keluhan, kemarahan, kebencian, dan kegagalan, hidup kita akan terasa suram dan kelam. Sebaliknya kalau pikiran kita sarat dengan hal-hal positif-kesuksesan, kasih, sukacita, kebaikan, dan kebahagiaan, dunia pun akan terasa cerah. Pikiran ibarat kacamata kehidupan, menentukan cerah suramnya apa yang kita lihat.
Ketika menulis surat Filipi, Rasul Paulus sedang dipenjara. Dengan kondisi demikian ia punya banyak alasan untuk mengeluh. Akan tetapi, ia tidak membiarkan dirinya terjebak dalam pikiran negatif. Karena itu surat Filipi jauh dari gambaran suram dan buram. Sebaliknya, justru penuh dengan ungkapan sukacita dan luapan pengharapan.

BIASAKAN BERPIKIR POSITIF HIDUP AKAN TERASA LEBIH CERAH
Sumber : renunganharian.net

Peka Akan Suara Tuhan

Sewaktu jaman telegraph sedang berjaya, ada seorang anak muda yang begitu mencintai sandi-sandi morse dan bermimpi dapat bekerja di perusahaan pengiriman pesan kilat tersebut. Hingga suatu hari kesempatan itu datang, perusahaan mengumumkan adanya sebuah lowongan pekerjaan. Dengan bersemangat anak muda tersebut datang ke perusahaan tersebut untuk melamar pekerjaan itu.
Ketika memasuki perusahaan telegraph itu, ia terkagum-kagum melihat sekeliling bagaimana para sibuk bekerja dan terdengar ramai suara-suara sandi morse.
Namun ternyata peminat atas pekerjaan itu tidak sedikit. Banyak orang telah duduk menunggu untuk melakukan wawancara. Oleh repsesionis ia diminta mengisi formulir sambil duduk menanti bersama para pelamar lainnya.
Namun ketika ia telah selesai mengisi formulir, tiba-tiba anak muda itu berdiri dan segera masuk ruang wawancara tanpa menunggu dipanggil. Hal itu tentu saja membuat para pelamar lainnya bertanya-tanya. Apa lagi beberapa saat kemudian diumumkan bahwa pemuda tersebut mendapatkan pekerjaan tersebut. Mereka pun protes dengan keputusan itu.
Akhirnya pihak manajemen memberi penjelasan, “Anak muda ini datang bukan hanya menunggu dipanggil, namun ia benar-benar menguasai dan mencintai sandi-sandi morse. Sedari tadi kami sudah memberikan informasi melalui sandi morse yang berbunyi, ‘Jika Anda sudah selesai mengisi formulir, silahkan masuk untuk wawancara.’ Dan anak muda ini menangkap informasi tersebut sedangkan saudara-saudara tidak.”
Terkadang, kita seperti para pelamar itu. Kita sibuk dengan permintaan kita, sehingga kita tidak tahu bahwa Tuhan sedang berbicara dengan kita. Akhirnya, berkat yang harusnya kita terima terlewatkan, hanya karena kita tidak peka dengan suara Tuhan.
Untuk itu mari kita belajar seperti anak muda yang mencintai sandi morse itu. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita bukan hanya sibuk dengan permintaan dan pikiran kita sendiri, namun juga mengarahkan telinga rohani kita kepada suara-Nya.
 “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” ~ Yohanes 10:27
Sumber : jawaban.com

Jumat, 23 Juli 2010

Milikilah Iman, Pengharapan, dan Kasih

Pada bulan Februari tahun 1941, Maxmilian Kolbe, seorang pastor Katolik, ditangkap oleh tentara Nazi karena menolong orang-orang Yahudi melarikan diri dari teror Nazi. setelah berbulan-bulan dipenjarakan, para narapidana itu mencoba untuk melarikan diri.

Bila tertangkap, para narapidana yang mencoba melarikan diri akan ditempatkan dalam satu kelompok yang terdiri dari 10 orang dan dimasukkan dalam satu sel dimana mereka dibiarkan mati kelaparan. Hal itu dilakukan untuk menghentikan para narapidana lain yang akan mencoba melarikan diri.

Beberapa narapidana tertangkap dan dipanggil satu persatu namanya. Tibalah seorang Yahudi dari Polandia yang bernama Frandiskek Gasovnachek. Ia menangis dan berkata: "Tunggu, aku mempunyai istri dan anak-anak," Kolbe maju ke depan dan berkata: "Aku akan menggantikan dia." Kolbe diarak menuju satu sel bersama 9 orang lainnya. Ia hidup sampai tanggal 14 Agustus. Tentara Nazi lalu membunuhnya dengan suntikan dan mengkremasikan tubuhnya.
Kisah ini ditayangkan di televisi beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu Gasovnachek berumur 82 tahun dan berlinang air mata. Satu kamera mengikutinya berjalan di rumahnya yang berwarna putih. Ia berjalan menuju satu monumen yang dihiasi dengan bunga. Di batu monumen itu tertulis "In memory of Maximilian Kolbe. He died in my place." Sejak tahun 1941, setiap hari Gasovnachek hidup dengan kenangan: "Aku hidup karena seseorang mati menggantikan aku." Setiap tahun pada tanggal 14 Agustus ia pergi ke Auschwitz untuk memperingati Kolbe. Seperti itulah yang dilakukan oleh Yesus untuk kita. Ia mati menggantikan kita supaya kita beroleh hidup. Iman yang dipunyai Kolbe dapat menyelamatkan orang lain. Begitu juga kita, dapat memberitakan Yesus dan orang diselamatkan melalui kita.

Ada kisah lainnya. Beberapa tahun yang lalu ada seorang mahasiswa di Kentucky Christian College yang suka musik. Ia mengambil kelas "Music in Worship." salah satu tugas dikelas tersebut yaitu mengarang sebuah lagu yang dapat dipakai oleh jemaat untuk menyanyi bersama.

Pemuda ini menulis sebuah lagu untuk kelas tersebut, tetapi lagu itu tidak mengesankan dosennya. Dosennya berkata: "Lagu ini cukup baik...tetapi orang-orang tidak akan menyanyikannya untuk worship." Lalu dosen tiu menerangkan mengapa pemuda itu gagal melakukan tugasnya seperti yang diharapkan oleh gurunya, tetapi karena ia telah menyelesaikan tugasnya maka ia diberi nilai C.
Lagu itu menjadi lagu pujian yang terkenal. Nama pemuda itu adalah Rick Mullins, dan lagu yang ditulisnya adalah sebagai berikut:

Our God is an Awesome God
He reigns from Heaven above
With wisdom power and love
Our God is an Awesome God

Kegagalan manusia dapat menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja. Apa yang dianggap bodoh atau gagal manusia, dapat dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat. Jangan berhenti berharap, jangan berhenti berusaha.

Dalam satu bukunya, John Maxwell pernah menceritakan tentang seorang yang bernama Aleida Huissen, 78 tahun, berasal dari Rotterdam, Netherlands. Ia telah memiliki kebiasaan merokok selama 50 tahun. Selama 50 tahun ia berusaha untuk berhenti merokok tetapi tidak berhasil. Satu hari Leo Jensen, yang berumur 79 tahun, melamarnya dan ingin menikah dengan dia dengan satu syarat: Kalau Aleida berhenti merokok. Aleida berkata "Will power did not work. Love did it!"
Kasih merupakan senjata yang paling ampuh untuk mengubah seseorang.
Kasih lebih kuat dari pada kemauan. Bila kita menginginkan seseorang berubah menjadi lebih baik, berikanlah kasih ganti daripada kritik.

Asalkan Anda memiliki ketiga hal ini, iman, pengharapan dan kasih, maka hidup Anda dapat dipakai Tuhan secara luar biasa buat kemuliaan Tuhan. Asalkan Anda memiliki kasih Tuhan, itu berarti Anda memiliki segalanya. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13)

Sumber : generasi minyak anggur/lh3/jawaban.com